Beberapa Pusat Kajian Hadis Masa Para Sahabat

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat telah berhasil menyebarkan estafet amanah Nabi. Akhirnya Islam masuk dan diterima di berbagai negeri.

Hal ini pun diikuti dengan kekuasaan Islam yang semakin meluas. Contohnya, Syam dan Irak berhasil dikuasai sepenuhnya pada tahun 17 H, Mesir dikuasai tahun 20 H, Persia tahun 21 H. Perluasan kian terus terjadi hingga wilayah Samarkand tahun 56 H dan Andalusia tahun 93 H.

Akibat perluasan ini pun berdampak pada banyaknya orang yang memilih Islam dan haus akan pengetahuan dan hukum-hukumnya.

Baca Juga :   Kisah Wafatnya Khalid bin Walid

Hal inilah yang mendorong para pemimpin untuk mengutus sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajari mereka hukum-hukum agama. Para sahabat juga pergi ke berbagai wilayah, hingga beberapa dari mereka ada yang menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Dar al-Hadits (Pusat Kajian Hadits) di Madinah

Madinah menjadi tempat tujuan hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Di sini mereka menyampaikan banyak hadits. Sebab mayoritas syariat Islam diturunkan di sana. Para sahabat Muhajirin juga turut merasa nyaman tinggal di Madinah dan akhirnya mereka menetap di Madinah

Para sahabat yang memiliki kemampuan di bidang hadis dan fikih di Madinah cukup banyak. Sebut saja, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Hurairah, Ummul Mukmini Aisyah, Abdullah bin Umar, Abu Said al-Khudri, Zaid bin Tsabit, dll.

Bahkan Zaid bin Tsabit cukup dikenal karena memiliki pandangan yang mendalam terhadap Alquran dan sunnah. Selain itu Zaid juga menjadi salah satu sosok utama dalam memberikan putusan hukum dan fatwa. Dia juga ahli di bidang qira-ah dan fara-idh di zaman Umar, Utsman, Ali, hingga akhirnya wafat pada tahun 45 H, di masa kekhalifahan Muawiyah.

Selain itu, melalui para sahabat yang tinggal di Madinah ini, kemudian lahir tokoh-tokoh tabi’in seperti: Said al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Salim bin Abdullah bin Umar, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Nafi’ maula Ibnu Umar, Abban bin Utsman bin Affan, dan masih banyak lagi para penghafal hadits yang senantiasa menjadi sumber rujukan sunnah dan fatwa-fatwa yang dibutuhkan.

Zaid bin Tsabit terkenal dengan pandangan yang mendalam terhadap Alquran dan sunnah. Bahkan, Umar menyisakan beberapa perkara untuk dikonsultasikan kepada Zaid. Yaitu pada saat Umar menemui kendala pada beberapa ketetapan hukum. Zaid pun menjadi salah seorang yang utama dalam memberikan putusan hukum dan fatwa. Dia juga ahli di bidang qira-ah dan fara-idh di zaman Umar, Utsman, Ali, hingga akhirnya wafat pada tahun 45 H, di masa kekhalifahan Muawiyah.

Melalui para sahabat yang tinggal di Madinah ini, lahir tokoh-tokoh tabi’in seperti: Said al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, Salim bin Abdullah bin Umar, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Nafi’ maula Ibnu Umar, Abban bin Utsman bin Affan, dan masih banyak lagi para penghafal hadits yang senantiasa menjadi sumber rujukan sunnah dan fatwa-fatwa yang dibutuhkan.

Baca Juga :   Kalimat yang Diajarkan Rasulullah Ketika Sakit

Dar al-Hadits (Pusat Kajian Hadits) di Mekah

Kala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menaklukan Kota Mekah, ia saat itu memberikan tugas kepada Muadz bin Jabal untuk tinggal di sana untuk mengajarkan hukum-hukum Islam kepada penduduknya.

Bagaimana menjelaskan halal dan haram, memberikan pemahaman ilmu agama dan Alquran pada mereka. Nah, Muadz sendiri merupakan seorang pemuda Anshar yang memiliki keutamaan, kesantunan, keilmuan, dan kelapangan. Ia juga selalu ikut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Muadz, kemudian estafet dakwah di Mekah dilanjutkan oleh Abdullah bin Abbas yang telah kembali dari Bashrah. Ia adalah gudang ilmu dan hafizh hadis.

Disebutkan al-Hakim dalam Ma’rifatu Ulumi al-Hadis, adapun selain Ibnu Abbas, sahabat lainnya yang tinggal di Mekah, yaitu Abdullah bin Saib al-Makhzumi. Ia adalah ahli qiraah bagi penduduk Mekah. Kemudian ada Itab bin Usaid, Khalid bin Usaid, al-Hakam bin Abi al-Ash, Utsman bin Thalhah, dll.

Dar al-Hadits di Mesir

Perlu kita ketahui pada tahun 20 H, kala itu Mesir menjadi wilayah kaum muslimin. Banyak penduduknya yang tertarik dengan agama Islam.

Dan di masa Muawiyah bin Abu Sufyan, ia memberikan tugas ke salah seorang sahabat yang utama Amr bin al-Ash untuk Mesir. Amr pun membawa serta putranya, seorang ahli ilmu di kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma.

Abdullah bin Amr merupakan pemuda yang rajin beribadah. Ia pun termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Bahkan, dia memiliki keunggulan di bidang tulis-menulis. Dengan hal itulah ia mencatat hadis-hadis yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan setelah ayahnya wafat, Abdullah memilih untuk menetap di Mesir.

Selain Abdullah, adapun sahabat lainnya yang menyebarkan ilmu di Mesir, yakni Uqbah bin Amir al-Juhani, Kharijah bin Hudzafah, Abdullah bin Saad bin Abi Sarah, Mahmiyah bin Juzu’, Abdullah bin al-Harits bin Juzu’, Abu Bashrah al-Ghifari, Abu Saad al-Khair, Muadz bin Anas-al-Juhani, dll. Muhammad bin Rabi’ al-Jaizi menyatakan lebih dari 140 orang sahabat yang tinggal di Mesir.

Kemudian dari pengajaran mereka itulah, muncul para tabi’in. Di antaranya Abu al-Khair Murtsad bin Abdullah al-Yazini, seorang mufti Mesir. Ia meriwayatkan banyak hadis dari Abu Ayyub al-Anshari. Kemudian Abu Bashrah al-Ghifari, dan Uqbah bin Amir al-Juhani, Yazid bin Abi Hubaib, dll.

Itulah sebagian gambaran mengenai perguruan-perguruan yang berperan besar dalam pengajaran ilmu-lmu keislaman dan penyebar hadis di berbagai wilayah perluasan Islam.

Saat ini pun memberikan gambaran nyata pada kita, bahwa bagaimana para sahabat dan tabi’in dalam menyebarkan dan meriwayatkan hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

 

 

Berita Terkait