Hidup Bermoderat Sesuai Perintah Nabi Muhammad

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

“Sebaik-baiknya perkara adalah yang tengah-tengah,” kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis.

Nabi Muhmammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap moderat, termasuk dalam beragama. Tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga melupakan kehidupan dunia. Begitu juga sebaliknya. Karena semuanya harus dijalani secara seimbang dan proporsional.

Saat itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Abdurrahman bin Amr bin Ash karena berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga mengabaikan istrinya.

Baca Juga :   Kerinduan Zubair Akan Syahid

Dirinya menghabiskan waktunya hanya untuk shalat, baik itu wajib ataupun sunnah, puasa, dan dzikir. Dia taak pernah sekadar beristirahat apalagi bergumul dengan istrinya.

Kemudian istrinya pun mengeluh dengan kelakuan suaminya yang lebih mementingkan ibadah dan melupakan dirinya. Istri Abdullan bin Amr lalu mengadu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan perilaku suaminya yang seperti itu.

Nabi Muhammad Shallallahu’ alaihi wa sallam kemudian memanggil Abdullah bin Amr dan memerintahkan untuk bersikap moderat. Tidak berlebih-lebihan dalam beragama.

“Abdullah, saya itu juga sering menjalankan ibadah shalat, puasa dan ibadah lainnya. Tapi saya juga istirahat juga ‘berkumpul’ bersama istriku. Kalau dirimu beribadah terus tanpa memberi perhatian istrimu maka tidak kuakui sebagai umatku,” kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Juga :   Maryam Seorang Wanita Yang Menjadi Suri Tauladan Muslimah Di Dunia

Lalu di lain waktu, hal yang sama pun dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu’ alaihi wa sallam kepada sahabatnya yang lain, yaitu Hanzhalah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Hanzhalah untuk berlaku moderat. Seperti yang diterangan dalam kitab al-Musnad karya Imam Ahmad, dan dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’in al-Hasyimi, 2018), ketika itu Nabi Muhammad menyampaikan sebuah wejangan kepada para sahabatnya di sebuah majelis sehingga membuat hati mereka tersentuh dan menangis. Hanzhalah yang hadir pada kesempatan itu juga bergetar hatinyya hingga menitikkan air mata.

Di situ Hanzhalah merasa dirinya telah melakukan kemunafikan. Sebab sebelumnya dia menangis sesenggukan dan hatinya bergetar ketika mendengar wejangan Nabi Muhammad.
Namun sesaat setelahnya dia dengan istrinya asyik membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi dan melupakan apa yang dirasakan ketika bersama Nabi Muhammad. Kemudian Hanzhalah menghadap kepada Nabi Muhammad, dia mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa dirinya telah berbuat kemunafikan.

Di hadapan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hanzhalah mengungkapkan bahwa dirinya seharusnya selalu ingat dan merasakan perasaan yang sama di manapun ia berada seperti ketika berada dalam majelis bersama Nabi Muhammad, yakni selalu bergetar hatinya dan berlinang air matanya karena mendengar mauidzah Nabi Muhammad. Sebab itu, ia menganggap dirinya telah melakukan kemunafikan karena hatinya ‘yang mudah berubah’ seperti itu.

Berita Terkait