Kisah Rasulullah Menerima Wahyu Pertamanya

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Kita ketahui Gua Hira menjadi bersejarah bagi umat Islam. Gua yang berada di puncak Jabal Nur, Makkah itu menjadi tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.

Sejak sebelum menikah, Muhammad dikenal sebagai seorang pria yang sering merenung, dan berpikir, kontemplasi (olah spritual), memikirkan fenomena alam dan lingkungan sekitarnya di tempat yang jauh dari keramaian.

Hingga pada suatu malam di bulan Ramadhan, tahun 610 M, di sudut gua Hira, beliau dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama dari Allah.

Rasulullah menerima wahyu tersebut saat sedang berkhalwat di Gua Hira yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Masjidil Haram.

Di tempat suci tersebut, Nabi Muhammad berpikir, kontemplasi sekaligus mencari solusi atas keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Makkah.

Baca Juga :   Kisah di Masa Khalifah Umar bin Khattab

Dan di tengah perenunganya itu, Rasulullah dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama yang disampaikan oleh malaikat Jibril yaitu, “Iqra’ (Bacalah)?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”.

Dalam hadis shahih Al-Bukhari diceritakan, bahwa Nabi SAW menjelaskan jika “Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”.

Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).”

Kemudian, Rasulullah kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah dan ketakutan. Ia menemui istri tercintanya Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Tanpa bertanya, Khadijah pun menyelimuti Rasulullah hingga hilang ketakutannya.

Lalu Rasulullah menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.”

Selepas itu, Khadijah langsung bergegas menuju rumah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza dan memberitahukan bahwa Muhammad akan diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul sebagaimana Musa ‘Alaihis Salam menerima wahyu melalui malaikat Jibril.

Setelah wahyu pertama itu, Nabi Muhammad terus-menerus menerima wahyu lainnya. Wahyu kedua, yaitu QS Al-Mudatsir ayat 1-5 berbunyi “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!”

Pada wahyu kedua inj usia Nabi Muhammad menginjak usia 40 tahun dan kemudian diangkat menjadi Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi umat manusia secara keseluruhan.

Berita Terkait