Sejarah Kota Jeddah yang Sering Diabaikan Orang

Kota Jeddah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Kota Jeddah memiliki sejarah yang sangat panjang di Arab Saudi, selain Kota Makkah dan Madinah yang memang di sana merupakan pusat peradaban Islam.

Kota Jeddah berada di tepi laut barat Arab Saudi, tepatnya berdekatan dengan Laut Merah. Sejak 2.500 tahun silam, kota yang kini ramai dikunjungi jamaah haji maupun umron ini adalah desa nelayan.

Kota ini memiliki tingkat kelembaban yang tinggi hampir pada setiap bulan di sepanjang tahun. Namun kelembaban itu seolah sirna pada saat musim dingin tiba.

Ini lah kota yang sangat strategis, menjadi garis penghubung antar pedangang dari berbagai benua dan negara. Ia menghubungkan India, Timur Tengah dan Mediterania. Untuk itu, Jeddah merupakan kota yang sangat penting.

Baca Juga :   Museum Topkapi, Mengenal Rasul Lewat Barang Pribadi Beliau

Sejak masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Jeddah telah menjadi pelabuhan penting yang menghubungkan para jamaah haji dari berbagai penjuru untuk menuju ke Makkah.

Bahkan Kekaisaran Turki Utsmani membangun benteng di sana untuk menghalau jika ada serangan dari Portugis. Pembangunan itu berlangsung pada abad ke-16.

Kota Jeddah di Masa Lalu

Kota yang dibawah kuasa Turki Utsmani hingga tahun 1915 ini masih terasa pengaruhnya hingga kini. Jika menengok bangunan-bangunan tua di kota ini, kita akan segera menemukan corak arsitektur Turki yang khas. Kini, tempat-tempat itu menjadi tujuan wisata yang cukup menarik.

Al-Balad, atau sering disebut sebagai Kota Tua Jeddah adalah areka perkotaan terbesar di keseluruhan Kerajaan Arab Saudi. Jeddah Al-Balad ini berdiri pada abad ketujuh dan pernah menjadi pusta kota Jeddah.

Sebelumnya, Al-Balad pernah memiliki dinding kota yang mengelilinginya hingga pada tahun 1940an pihak pemerintah menghancurkannya.

Pada era 1970-1980-an ketika warga Jeddah makin sejahtera karena booming minyak bumi, banyak Jeddawi yang pindah ke utara, menjauh dari al-Balad. Al-Balad sendiri kini menjadi pengingat bagi warga lokal ketika mereka belum punya apa-apa.

Baca Juga :   Catat! 4 Alasan Mengapa Kamu Harus Mengunjungi Kota Tua Rovinj

Ketika al-Balad kurang memiliki area parkir untuk kendaraan besar. Ketika toko-toko di sana masih menjual pakaian biasa.

Pemerintah Daerah Jeddah kemudian memulai usaha pelestarian cagar budaya di sana pada 1970-an. Pada 1991, Pemerintah Daerah Jeddah mendirikan Lembaga Pelestarian Sejarah Jeddah untuk menjaga karya arsitektur dan budaya bersejarah al-Balad. Pada 2002, dana 4 juta dolar AS dialokasikan untuk pelestarian bangunan bersejarah di sana.

Berita Terkait