Sejarah Penyembahan Berhala di Jazirah Arab Sebelum Nabi Muhammad

Berhala

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Sejarah penyembahan berhala di Jazirah Arab semula disebabkan oleh desakan hidup yang sulit secara ekonomi. Hal itu disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam bukunya yang berjudul Sirah Nabawiyah.

Mengenai sejarah penyembahan berhala itu, Ibnu Ishaq mengatakan penyebab anak keturunan Ismail menyembah batu ialah karena mereka mengalami kesulitan di Makkah, dan ingin pergi mencari rezeki di negeri-negeri lain, mereka membawa salah satu batu dari batu-batu tanah suci Makkah sebagai bentuk penghor-matan mereka terhadap Makkah.

Jika mereka berhenti di satu tempat, mereka meletakkan batu tersebut, kemudian thawaf di sekelilingnya persis seperti mereka thawaf di sekeliling Ka’bah. Itulah yang terjadi, hingga akhirnya terjadi perubahan pada mereka.

Baca Juga :   Dari Zaman ke Zaman, Sungai Nil Selalu Menjadi Tumpuan

Mereka menyembah batu yang mereka anggap baik dan menarik perhatian mereka. Generasi datang silih berganti hingga mereka lupa penyikapan yang benar terhadap batu tersebut dan mengubah agama Ibrahim dan Ismail dengan agama lainnya.

Penyembahan Berhala dan Akibat dari Kesesatan Itu

Mereka menyembah berhala-berhala dan menjadi tersesat seperti umat-umat sebelumnya. Kendati begitu, di antara mereka masih terdapat sisa-sisa pengikut Nabi Ibrahim yang berpegang teguh kepada agama Ibrahim; mengagungkan Ka’bah, thawaf di sekelilingnya, melakukan ibadah haji, umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan qurban, membaca talbiyah ketika melakukan haji dan umrah, serta tidak ketinggalan memasukkan ajaran baru (bid’ah) ke dalamnya.

Jika orang-orang Kinanah dan orang-orang Quraisy melakukan talbiyah mereka berkata, “Labbaikallahumma labbaika. Labbaikan laa syariika laka illaa syariikun huwa laka. Tamlikuhi wa maa malaka (Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu tersebut menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya dan tidak ada yang memilikinya).”

Baca Juga :   Mashrabiya, Jendela Tempat Harim Mengintip Pujaan Hati

Mereka mentauhidkan Allah dalam talbiyah, namun memasukkan berhala-berhala mereka bersama Allah dan menjadikan kepemilikan berhala-berhala tersebut di Tangan-Nya.

Allah Tabaraka wa Ta ‘ala befirman kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). “(Yusuf: 106).

Maksud ayat di atas, bahwa mereka tidak mentauhidkan Aku karena mengetahui hak-Ku; namun mereka menjadikan sekutu bagi-Ku dari makhluk-Ku.

Berita Terkait